Antisipasi dini bonus demografi (Didik Supriyanto, Kepala Biro layanan Publik STISOSPOL ”Waskita Dharma” Malang)

BeritaAntara, Malang, -Pengendalian penduduk terus digalakkan melalui program Keluarga Berencana (KB) karena jika pertumbuhan penduduk tidak terkendali dapat mengancam Sumber Daya Alam (SDA) seperti bahan minyak dan gas bumi yang terus dieksploitasi guna kepentingan mencukupi kebutuhan hidup penduduk yang jumlahnya terus bertambah. Demikian diungkapkan Kepala Biro Layanan Publik Sekolah Tunggi Ilmu Sosial dan Politik “Waskita Dharma” Malang Didik Supriyanto dalam rakor Analisis Dampak Kependudukan dan Dampak Masalah Kependudukan di kantor BKKBN Kota Batu, Kamis (05/9)

Acara tersebut diselenggarakan oleh Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBPPPA) Kota Batu yang dihadiri oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kota Batu, TNI, Polri, PKK dan lembaga masyarakat. “Masalah kependudukan bukan hanya menyangkut soal administrasi penduduk datang dan pergi, lahir dan mati, pindah dan datang, tetapi menyangkut lebih luas lagi bahkan berpengaruh dalam penyusunan strategi negara”, papar Didik Supriyanto.

Ia mencontohkan saat ini populasi penduduk Indonesia terbesar adalah usia remaja, dimana pada sasaran ini sangat empuk untuk diserang atau dihancurkan melalui peredaran Narkoba. Maka jika generasi muda ini hancur karena obat terlarang maka negara juga bisa runtuh. “Oleh karena itu perlu dilakukan analisis dampak kependudukan dan permasalahan dampak kependudukan yang dimotori oleh BKKBN melibatkan instansi serta lembaga terkait”, tandasnya

Dalam melaksanakan analisis ini, kata Didik, perlu melibatkan perguruan tinggi untuk memetakan secara detail wilayah mana yang perlu mendapatkan perhatian dan perlu segera ditangani. Analisis ini akan menyangkut 3 (tiga) Matra Kependudukan yaitu Kuantitas Penduduk, Kualitas Penduduk dan Persebaran Penduduk. Misalnya terkait wilayah yang angka pernikahan dininya tinggi, daerah yang tingkat kehamilan remajanya tinggi dan sebagainya, sehingga dapat disusun strategi mengatasi masalah tersebut. “Saya merasa prihatin atas tingginya angka kelahiran pada usia remaja”, tandasnya

Lebih lanjut ia menyampaikan, jika pertumbuhan penduduk tidak terkendali, maka kualitas penduduk juga akan menjadi masalah. Selain itu meledaknya jumlah penduduk akan memberikan tekanan terhadap lingkungan. “Saya contohkan ketika nantinya sumber minyak habis, mungkin masih ada kelapa sawit yang mensuplay kebutuhan minyak. Tetapi jika kelapa sawit lahannya terancam untuk tempat tinggal penduduk maka akan terjadi krisis minyak”, jelasnya

Oleh karena itu perencanaan keluarga sangat perlu dilakukan di setiap keluarga. Seperti yang digalakkan oleh BKKBN melalui jajarannya di daerah, menggalak program Genre (Generasi Berencana), tujuannya tidak lain adalah menciptakan generasi emas yang dipelopori remaja, menjadikan orang tua sukses karena anak-anaknya sukses dan akhirnya menjadikan orang tua tangguh, lansia tidak menjadi beban negara.

“Datangnya status Lansia (umur 65 tahun) itu tidak bisa dicegah, karena itu kita harus membantu menyiapkan bagaimana Lansia itu produktif. Sedangkan permasalahan remaja yang berdampak negatif bagi masa depan dapat dicegah melalui pembinaan dan pembentukan karakter melalui pemberdayaan Genre”, tandas Didik.