Pentingnya Pendidikan Formal, Informal dan Non Formal

Sabtu, 15 Februari 2020
Sekolah Tinggi Ilmu Sosial & Politik Waskita Dharma Malang menggelar Dialog Interaktif bersama Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Sabilul Falah di Desa Manarui Bangil Pasuruan.
Tepatnya di tempat pelaksanaan PKBM Sabilul Falah : Jl. Sili No.8 Desa Manarui Bangil Pasuruan.

Kegiatan ini dihadiri oleh :
1). Dr. Aisyam, M.Si
2). Drs. Suryo Hartoko M, M.Si
3). Suljatmiko, S.Kom
4). Arda Ariani, S.Sos

Dimana tema yang di usung adalah tentang :
“Pentingnya Pendidikan Formal, Informal dan Non Formal”
PKBM adalah sebagai wahana untuk mempersiapkan warga masyarakat agar bisa lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk dalam hal meningkakan pendapatannya. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta masalah-masalah pendidikan masyarakat serta kebutuhan akan pendidikan masyarakat, definisi PKBM terus disempurnakan terutama dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kebutuhan lembaga, sasaran, kondisi daerah serta model pengelolaan.

Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa PKBM adalah sebuah lembaga pendidikan yang dikembangkan dan dikelola oleh masyarakat serta diselenggarakan di luar sistem pendidikan formal baik di perkotaan maupun di pedesaan dengan tujuan untuk memberikan kesempatan belajar kepada seluruh lapisan masyarakat agar mereka mampu membangun dirinya secara mandiri sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Untuk itulah PKBM berperan sebagai tempat pembelajaran masyarakat terhadap berbagai pengetahuan atau keterampilan dengan memanfaatkan sarana, prasarana dan potensi yang ada di sekitar lingkungannya (desa, kota), agar masyarakat memiliki keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup.

Bpk. Suryo Hartoko M, menyebutkan Pendidikan adalah hal yang wajib dimiliki oleh semua individu, karena didalam setiap ajaran agama seseorang wajib berusaha dalam mendapatkan pendidikan. Pendidikan nasional telah diatur dalam undang-undang maupun peraturan menteri. Dalam undang-undang sistem pendidikan nasional Nomor 20 Tahun 2003 tertulis bahwa jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal dan informal. Artinya ada tiga jalur pendidikan yang diakui di Indonesia.

Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 13, pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Keluarga adalah salah satu pusat pendidikan yang memiliki peran penting untuk membentuk karakter seseorang. Dalam keluarga seseorang pertama kali berinteraksi dengan dunia luarnya. Interaksi ini sangat penting dalam menumbuhkan potensi fitrah yang ada dalam dirinya.

Selain keluarga, jalur pendidikan informal juga terdapat pada lingkungan setiap individu. Lingkungan sangat erat kaitannya dengan lingkungan alamiah dan sosial seseorang. John locke adalah salah satu tokoh empirisme yaitu salah satu faktor yang membentuk kepribadian seseorang adalah lingkungan tempat tinggalnya. Sehingga salah satu teori pendidikan menganit dan menyakini secara mutlak akan pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan peserta didik.

Pendidikan nonformal merupakan mekanisme yang memberikan peluang bagi setiap orang untuk memperkaya ilmu pengetahuan dan teknologi melalui pembelajaran seumur hidup. Pendidikan nonformal adalah setiap kesempatan terdapat komunikasi yang teratur dan terarah diluar sekolah.

Pendidikan adalah hal yang sangat berpengaruh untuk membangun Indonesia. Komponen-komponen seperti pemerintah,guru dan siswa yang ada dalam pendidikan harus saling mendukung karena merekalah yang paling menentukan pendidikan seperti apa yang harus diterapkan di Indonesia. Untuk mewujudkan generasi emas tahun 2045, penting bagi dunia pendidikan melakukan perubahan pola pikir. Pendidikan tidak hanya sekedar transfer ilmu tetapi juga karakter. Keseimbangan anatara akademik dan karakter inilah yang harus disiapkan dari sekarang melalui pendidikan informal,formal dan nonformal.

Masyarakat Sasak Dalam Pilkada Lombok Tengah”. Di Kampus STIS Harsy Lombok.

22 – 23 Februari 2020
Sekolah Tinggi Ilmu Sosial & Politik Waskita Dharma Malang bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Starian Haji Abdur Rasyid STIS Harsyi Lombok Tengah menggelar acara Komunikasi Publik dalam tema “Masyarakat Sasak Dalam Pilkada Lombok Tengah”. Di Kampus STIS Harsy Lombok.

Narasumber :
1). Dr. Moh Hilmi (Ketua STIS Harsyi Penangsak Lombok tengah)
2). M. Agus Syukron, M.Si (Stisospol Waskita Dharma)
3). Dr. H. Sigit Wahyudi, Drs., SE., MM ( Stisospol Waskita Dharma)
4). Dr. Abd. Rahman, M.Si (Stisospol Waskita Dharma)

Acara ini dibuka oleh Dr. Moh Hilmi (Ketua STIS Harsyi Penangsak Lombok Tengah). Dalam sambutannya menyampaikan selamat datang kepada para peserta, dan terimakasih atas kehadiran pada acara Komunikasi Publik Masyarakat Sasak Dalam Pilkada Lombok Tengah yang dianggap sangat penting, untuk edukasi khususnya masyarakat sasak dalam pilkada yang akan berlangsung nanti.

Pergelutan politik di wilayah NTB sama sekali berbeda dengan wilayah-wilayah lain. Di NTB, terdiri dari 3 suku: suku Sasak (di pulau Lombok), suku Samawa (di Sumbawa) dan suku Mbojo (mendiami wilayah Kota Bima, Kab. Bima dan Kab. Dompu). Ketiga-tiganya memiliki anatomi politik khusus. Di mana di suku Sasak, sosok Tuan Guru sangat sentral. Ratusan tuan guru di pulau Lombok berselisih dengan pesantren yang ada di sana. Begitu juga di suku Samawa, sosok tuan guru pun masih menjadi sentral. Namun agak berbeda di suku Mbojo. Syarat Tuan Guru tidak ada di suku ini. Sosok sentralnya malah raja, yaitu raja Bima sementara tidak teritorial tidak memiliki kawasan adat yang sangat eksis. Faktor kesukuan di atas selama ini tidak terlalu menantang, semuanya masih bisa disatukan dalam bingkai religius. Namun, bukan tidak mungkin, faktor kesukuan ini akan mempengaruhi konflik di kemudian hari karena perbedaan kepentingan dan wilayah. Hal krusial yang ditakutkan sebagai pemicunya adalah pemekaran “Provinsi Pulau Sumbawa” yang masih terjadi tarik-ulur. Di mana kekayaan alam terpusat di Pulau Sumbawa sementara jumlah penduduk terbanyak terpusat di Pulau Lombok, dan taraf hidup masyarakatnya ada di antara Pulau Lombok dengan Pulau Sumbawa. Maka, Pulau Sumbawa berkeinginan untuk memperbaiki diri dari Pulau Lombok. Ini, di kemudian hari, jika Provinsi Pulau Sumbawa dikabulkan, tidak mungkin, antara suku-suku itu akan berperang.

Terkait ada kekuatan besar yang bisa menyatukan hal tersebut. 70 persen penduduk NTB (yang berpindah 5,3 juta penduduk) berada di pulau Lombok maka otomatis anatomi politik provinsi NTB berpusat di Lombok. Di mana di situ ada dua organisasi massa besar: yaitu NW (nahdhatul wathan) dan NU. NW sebetulnya rumpunnya sama dengan NU, di mana pendiri NW adalah juga murid dari pendiri NU. NW merupakan upaya melokalkan kearifan lokal dengan mendirikan organisasi sendiri yang sekarang sangat besar. Hampir 700 pesantren berlabel NW. NU pun tak kalah besar, hanya saja jika dibandingkan dengan NW, di NTB masih besar NW.
(www.kompasiana.com)

Pelaksanaan Pilkada diharapkan akan membawa banyak manfaat bagi perkembangan demokrasi, tatanan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, dan kinerja lembaga politik yang ada di daerah.

Penyusunan RKPD (Rencana Kerja Pemerintah Daerah) tahun 2021.

“Semangat PKL”
Hai #kawanstwd 😊

Waskita Dharma – Mulai tanggal 19 Februari 2020, Sekolah Tinggi Ilmu Sosial & Ilmu Politik Waskita Dharma Malang mulai melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) untuk program studi Ilmu Administrasi Negara. Kegiatan berlangsung selama 1 bulan, dimulai dari tanggal 19 februari sampai tanggal 19 maret 2020.
Lokasi Praktek Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa STISOSPOL Waskita Dharma Malang mulai dari wilayah Malang sendiri, Probolinggo, Madura, bahkan sampai ke Jawa Tengah.

Dalam foto ini,
Malang, 20 februari 2020 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Sosial & Politik Waskita Dharma Malang melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Dan mengikuti Musyawarah Perencanaan Pembangunan (MUSRENBANG) tahun 2020, Dalam Rangka Penyusunan RKPD (Rencana Kerja Pemerintah Daerah) tahun 2021.

peningkatan kompetensi Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) untuk menunjang program East Java Super Corridor (EJSC).

Waskita Dharma – Rabu, 19 Februari 2020

Dr. Suryo Hartoko M,Si selaku Ketua Program Studi Ilmu Administrasi Negara (Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Waskita Dharma Malang) diminta untuk menjadi Moderator dalam acara

Kegitan ini memiliki peran memperlancar kontribusi dan distribusi informasi serta menjembatani masyarakat dan pemerintah dalam penyebaran informasi dan penyebaran aspirasi. Hal ini ditampung melalui badan koordinasi wilayah pemerintahan dan pembangunan III Provinsi Jawa Timur di Malang.

Acara ini bertujuan melaksanakan sinkronisasi, monitoring dan evaluasi pelaksanaan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) tahun 2020.

Bertepat di Ruang Rapat Arjuno BAKORWIL Malang Jl. Simpang Ijen Nomor 2 Malang
Acara dimulai dari pukul 08.00 sampai selesai, dengan pembukaan, dilanjut dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang diikuti oleh panitia dan peserta rapat.

Acara kemudian dilanjut laporan ketua panita yang disampaikan oleh Kepala Bidang Pemerintahan. lalu sambutan/ arahan Kepala Bakorwi III Malang yang disampaikan oleh Kepala Bakorwil Malang.

Jam 09.00 Doa yang diikuti oleh panitia dan peserta rapat.
Dilanjutkan dengan pembacaan materi dari Biro Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Jawa Timur yang berjudul “Peran Pemerintah Provinsi Jawa Timur Dalam Membangun Keunggulan Ekonomi Melalui East Java Super Corridor (EJSC).

Dilanjut penyampaian materi dari Dinas Komunikasi dan Informasi Provinsi jawa Timur yang berjudul “Peran Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Sebagai Garda Terdepan Dalam Penyebarluasan Informasi Program Pembangunan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Penyampaian materi terakhir dari Good News From Indonesia (GNFI) dengan judul “Mencetak millenial Prifesional Untuk Memasuki Era Baru Dunia kerja”.

Pada sesi terakhir acara dilakukan tanya jawab dan terakhir kesimpulan dan penutup.

Mendidik Administrator Negara Yang Berkarakter Di Era Revolusi Industri 4.0

Waskita Dharma – 12-13 Februari 2020, telah berlangsung acara pembekalan Praktek Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Sosial & Politik Waskita Dharma Malang, dengan tema Mendidik Administrator Negara Yang Berkarakter Di Era Revolusi Industri 4.0
Pembekalan Ini bertempat di Kampus 2 Jl. Indragiri V No. 52-53, Malang di Lt.3. Yang diikuti seluruh mahasiswa semester VII.

Acara ini dihadiri oleh Ketua Sekolah Tinggi Drs. Stef. Alam Sutardjo, M.Si, dan Ketua Kaprodi Drs.Suryo Hartoko,M.Si

Drs. Alam Sutardjo, M.Si mengungkapkan banyak hal yang harus diubah oleh negara yang ingin maju. Hal ini juga berlaku bagi Indonesia, terlebih saat ini Indonesia tengah menghadapi era revolusi industri 4.0 dengan tingkat persaingan yang semakin ketat. Dari sejumlah perubahan yang harus dilakukan, perbaikan SDM adalah salah satu hal yang harus sangat diperhatikan. Perbaikan tersebut dapat terlaksana salah satunya dengan cara mengubah metode pembelajaran dalam dunia pendidikan yang ada.

Setidaknya ada tiga hal yang perlu diubah Indonesia dari sisi edukasi. Pertama dan yang paling fundamental adalah mengubah sifat dan pola pikir anak-anak muda Indonesia saat ini. Kedua, pentingnya peran sekolah dalam mengasah dan mengembangkan bakat generasi penerus bangsa. Ketiga dan yang terakhir adalah pengembangan kemampuan institusi pendidikan tinggi untuk mengubah model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan zaman saat ini.

Untuk menghadapi era revolusi industri 4.0, diperlukan pendidikan yang dapat membentuk generasi kreatif, inovatif, serta kompetitif. Hal tersebut salah satunya dapat dicapai dengan cara mengoptimalisasi penggunaan teknologi sebagai alat bantu pendidikan yang diharapkan mampu menghasilkan output yang dapat mengikuti atau mengubah zaman menjadi lebih baik. Indonesia pun perlu meningkatkan kualitas lulusan sesuai dunia kerja dan tuntutan teknologi digital.

Drs. Suryo Hartoko, M.Si menambahkan Di era 4.0 saat ini, administrasi publik menghadapi beragam tantangan dan perlu bereformasi. Tantangan tersebut termasuk lahirnya era digital yang mendorong ekspektasi akan keterbukaan, kecepatan dan akurasi layanan publik yang diberikan pemerintah.

Menurutnya, reformasi administrasi publik berperan penting, stratejik, dan bahkan merupakan prasyarat dalam memperkuat kualitas demokrasi untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Ia menambahkan, administrasi publik merupakan enabling factor dalam pembangunan bangsa dan negara.
“Kita harus mengambil sisi positif dari Western dan Asian Values untuk menghadapi tantangan governansi global di era yang serba 4.0 ini,” tambah dia.

Bagaimana Merespon RI 4.0 dalam Persfektif Institusi dan Teknologi ?
Dari sudut pandang institusi, RI 4.0 membawa harapan dan tantangan. Harapannya adalah adanya peluang efisiensi dan produktivitas yang akan membuka pasar baru dan pertumbungan ekonomi. Pada saat yang bersamaan, revolusi industri menimbulkan tantangan khususnya gangguan terhadap tenaga kerja. Keuntungan terbesar adalah bahwa RI 4.0 mempunyai kemampuan untuk meningkatkan kualitas hidup, orang dapat bekerja lebih baik dan waktu yang lebih sedikit, dan kebutuhan mereka dapat dipenuhi secara lebih efisien dan dalam platform digital. Dengan demikian semua pekerjaan rutin akan hilang karena akan dikerjakan oleh robot dan peran individu dalam organisasi akan berhubungan dengan aktivitas audit, berinovasi dan berfikir kritis.

Selanjutnya dengan akselerasi perubahan dunia, dengan siklus disrupsi yang cepat dalam industry dan dengan tumbuhnya automasi, istilah educated (terdidik) bagi seseorang tidak begitu bermakna lagi. Seorang individu harus mempunya ‘kelincahan belajar’ yaitu kemampuan untuk belajar, mengadaptasikan, dan menerapkannya secara cepat.

Untuk itu PKL penting bagi Mahasiswa karena bermanfaat bagi mahasiswa yang kelak akan terjun ke dalam dunia dan lingkungan masyarakat serta tujuan yang sangat diharapkan dalam pelaksanaan PKL yaitu mahasiswa yang dituntut untuk disiplin dalam mengikuti aturan-aturan pada kantor/ instansi, juga menjadikan Administrator Negara Yang Berkarakter Di Era Revolusi Industri 4.0 sehingga dapat mengenal dunia kerja itu sendiri dan dapat bersaing dengan tenaga kerja lain nantinnya.