Di balik sosoknya yang dikenal sebagai pendidik dan pengabdi dunia pendidikan, Hj. Khusniyah, S.Ag., M.Pd.I menyimpan prinsip sederhana namun begitu bermakna dalam membangun kehidupan rumah tangga. Salah satu komitmen yang selalu beliau pegang adalah tidak pernah menceritakan persoalan pribadi kepada orang lain selain kepada suaminya.
Dr. Sigit Wahyudi mengenang, almarhumah pernah berpesan bahwa setiap persoalan yang dihadapi di luar rumah cukup disampaikan kepada dirinya sebagai suami.
“Kalau ada sesuatu masalah di luar, maka buang sampahnya itu di saya,” demikian kenangan yang masih diingat Dr. Sigit dari ucapan sang istri.
Bagi Dr. Sigit, menjadi tempat berbagi cerita, keluh kesah, maupun beban pikiran istrinya bukanlah sebuah beban, melainkan bentuk kepercayaan dan kedekatan yang sangat berharga. Hal tersebut menjadi salah satu fondasi keharmonisan rumah tangga yang mereka bangun selama puluhan tahun.
Di mata keluarga, kolega, serta para pelayat yang hadir memberikan penghormatan terakhir, Hj. Khusniyah dikenal sebagai pribadi yang penuh kesabaran, murah senyum, dan selalu menyambut setiap orang dengan wajah ceria. Sosoknya hampir tidak pernah menunjukkan kemarahan.
Selama kurang lebih 28 tahun mendampingi kehidupan rumah tangga mereka, Dr. Sigit mengaku hanya pernah melihat almarhumah marah sebanyak dua kali. Salah satu momen itu terjadi ketika beliau merasa kepedulian terhadap sesama kurang mendapat perhatian. Almarhumah tidak menyukai ketika bantuan kepada orang yang membutuhkan sengaja ditunda, karena baginya menolong orang lain sebaiknya dilakukan tanpa menunggu waktu yang lama.
Warisan Nilai: Salat sebagai Pondasi, Pengabdian sebagai Jalan Hidup
Bagi keluarga besar, Hj. Khusniyah akan selalu dikenang sebagai sosok teladan yang meninggalkan nilai-nilai kehidupan yang kuat, baik dalam lingkungan keluarga maupun di tengah civitas akademika Universitas Waskita Dharma Malang.
Dalam mendidik anak-anaknya, beliau selalu menanamkan satu pesan yang terus diulang sepanjang hidupnya, yakni agar tidak pernah meninggalkan salat. Nilai keimanan tersebut menjadi fondasi utama yang beliau yakini sebagai bekal menjalani kehidupan.
Selain itu, semangat pengabdian menjadi prinsip yang selalu beliau pegang. Hj. Khusniyah mengajarkan bahwa membantu sesama dan mengabdikan diri di dunia pendidikan harus dilakukan dengan sepenuh hati, bukan demi mencari keuntungan pribadi.
Pesan yang sering beliau sampaikan kepada keluarga adalah agar tetap menghidupi Waskita Dharma dan majelis ilmu dengan penuh keikhlasan. Menurut beliau, apabila seseorang tulus mengabdi kepada pendidikan, maka Allah SWT akan mencukupkan seluruh kebutuhan hidupnya tanpa harus menjadikan pengabdian tersebut sebagai sarana mencari keuntungan.
Isyarat Menjelang Kepergian
Beberapa waktu sebelum wafat, keluarga mulai menyadari adanya sejumlah kebiasaan yang kemudian dipahami sebagai isyarat menjelang akhir hayat almarhumah.
Pada bulan Dzulhijjah, bertepatan dengan musim ibadah haji, Hj. Khusniyah meminta izin kepada keluarga untuk menjalankan puasa hajat selama empat puluh hari secara berturut-turut. Selama menjalankan ibadah tersebut, beliau juga mengajak seluruh anggota keluarga untuk lebih mendekatkan diri kepada Al-Qur’an.
Beliau menetapkan target agar setiap pekan keluarga dapat mengkhatamkan 30 juz Al-Qur’an. Setiap perkembangan bacaan maupun hafalan anak-anak dipantau secara langsung dan dilaporkan melalui grup WhatsApp keluarga sebagai bentuk motivasi bersama.
Isyarat lain yang masih membekas dalam ingatan keluarga adalah keinginannya memajang foto dirinya di rumah. Selama bertahun-tahun, keluarga mereka memang tidak memiliki kebiasaan memasang foto keluarga di dinding. Namun sekitar empat hingga lima hari sebelum berpulang, almarhumah meminta secara khusus agar fotonya dipasang.
Ketika ditanya alasan permintaan tersebut, beliau hanya menjawab singkat dalam bahasa Jawa, “Biar buat dilihat-lihat.” Kini, foto itu menjadi salah satu pengobat rindu yang selalu mengingatkan keluarga akan sosoknya.
Profesional Hingga Akhir Pengabdian
Semangat profesionalisme menjadi karakter lain yang melekat kuat pada diri Hj. Khusniyah. Di tengah kondisi kesehatan yang menurun sekalipun, beliau tetap berupaya memastikan aktivitas yayasan dan kampus berjalan sebagaimana mestinya.
Beliau berpesan agar persoalan pribadi maupun kondisi kesehatannya tidak sampai menghambat jalannya organisasi. Bahkan ketika harus menjalani perawatan di rumah sakit pada hari Sabtu, saat aktivitas kampus sedang berlangsung, beliau meminta agar kabar mengenai kondisinya tidak disebarluaskan. Baginya, pelayanan pendidikan kepada mahasiswa harus tetap berjalan tanpa terganggu oleh keadaan dirinya.
Sikap tersebut menunjukkan besarnya rasa tanggung jawab beliau terhadap lembaga yang selama ini menjadi tempat pengabdian. Hingga akhir hayat, beliau tetap menempatkan kepentingan pendidikan di atas kepentingan pribadi.
Melanjutkan Warisan Keteladanan
Kepergian Hj. Khusniyah meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Yayasan Waskita Dharma. Namun bagi Dr. Sigit Wahyudi, kepergian sang istri diterima dengan penuh keikhlasan sebagai ketetapan Allah SWT. Beliau meyakini bahwa Allah lebih menyayangi almarhumah dan memanggilnya pada waktu terbaik.
Pesan yang pernah disampaikan Dr. Sigit kepada anak-anak saat almarhumah menjalani masa koma kini menjadi pengikat keluarga untuk tetap bersatu. Anak-anak diharapkan saling menjaga, saling menguatkan, menghormati yang lebih tua, serta menjadi teladan bagi yang lebih muda agar nilai-nilai yang diwariskan sang ibu terus hidup dalam kehidupan mereka.
Hj. Khusniyah, S.Ag., M.Pd.I akan selalu dikenang sebagai sosok ibu, pendidik, dan pengabdi yang telah mewariskan keikhlasan, ketulusan, disiplin, serta dedikasi tanpa pamrih. Senyum hangat, semangat pengabdian, dan nilai-nilai kehidupan yang beliau tanamkan akan tetap hidup dalam keluarga, Yayasan Waskita Dharma, serta seluruh civitas akademika Universitas Waskita Dharma Malang.
Selamat jalan, Hj. Khusniyah. Jejak pengabdianmu akan senantiasa menjadi inspirasi dan terus dikenang sepanjang masa.





